Melindungi Anak dari Pelecehan Seksual di Medsos

blog-melindungi-anak-dari-pelecehan-seksual-di-medsos-indoliterasi

Melindungi Anak dari Pelecehan Seksual di Media Sosial

Saat ini dunia dalam genggaman. Atau lebih tepatnya, dunia juga dalam genggaman anak. Semakin banyak jumlah anak yang dipegangi hape atau laptop atau komputer oleh orangtua mereka. Apalagi di pengajaran online seperti saat ini. Akses internet menjadi wajib. Hanya dengan jari mereka, anak bisa menjelajah ke dunia apa saja, sebuah dunia yang nyaris tanpa batas.

Tetapi ada satu hal yang patut diwaspadai: serangan predator seks di media sosial. Para predator ini pintar mengincar calon korban. Dan biasanya mereka ramah dan sabar. Betapa untuk dapat menjerat korban, mereka bisa menjadi sangat penyabar: mendengarkan, memberi saran, membujuk, hingga menakut-nakuti. Dari mulai berperan sebagai dokter kandungan palsu, ahli kesehatan payudara abal-abal, hingga konsultan psikologi gadungan bagi anak-anak yang menjadi target mereka. Dan anak-anak bisa jadi berada dalam genggaman tangan para predator.

Perlu diketahui, target utama para predator seks pada anak-anak adalah:

  1. Anak-anak yang terluka secara psikologis. Bisa karena broken home, perpisahan orangtua, pertengkaran orangtua, ketidakharmonisan orangtua, ekonomi sulit, kurang perhatian, dan lain-lain.
  2. Anak-anak yang memiliki hubungan buruk dengan orangtua. Bisa jadi orangtua yang terlampau keras, disiplin, suka kekerasan, tidak perhatian, kurang komunikasi, tempat tinggal anak yang jauh dari orangtua, dirawat di tempat nenek/kakek atau saudara, dan lain-lain.
  3. Anak-anak yang kurang percaya diri. Bisa jadi bertipe minderan, kurang bersosial, suka menyendiri, dan lain-lain.

Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kesehatan psikologis buruk, yang hubungannya dengan orang tua buruk, dan yang minderan memiliki resiko lebih tinggi mendapatkan pelecehan seksual secara online.

Nah, apa yang harus dilakukan orangtua untuk melindungi mereka dari bahaya predator seks di media sosial?

  1. Ajarkan mereka soal barang “privacy” terutama foto atau video. Beritahu mereka tentang foto atau video yang boleh di-share ke orang lain atau tidak.
  2. Menjadi teman bicara dengan mereka soal hal-hal yang berkaitan dengan seks. Pengetahuan seks lebih baik diberikan oleh orangtua mereka ketimbang anak-anak mencarinya dari internet atau orang lain.
  3. Awasi penggunaan medsos mereka. Ya tapi jangan terlampau kentara karena nanti anak malah nggak suka dan merasa diawasi secara ketat. Ya sekali-sekali melihat siapa teman-temannya dan postingannya.
  4. Letakkan komputer di ruang keluarga yang terbuka. Tentu ini untuk membatasi gerak anak jika sudah mulai terlihat melampaui batas.
  5. Ajari anak untuk menolak permintaan yang berbau seksual dari orang lain. Tentu ini perlu tanya jawab dengan memberi beberapa contoh. Ajak bicara secara terbuka apakah ada orang lain yang pernah meminta atau mengajak sesuatu yang mengarah ke seksual.
  6. Bangun komunikasi yang baik dengan anak. Tumbuhkan rasa percaya diri mereka. Ajak mereka bersosialisasi. Sering-sering ajak diskusi saat makan atau beribadah bersama. Pastikan bahwa orangtua selalu “ada” untuk anak-anaknya.
  7. Perbaiki hubunganmu dengan suamimu atau istrimu. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat di rumah. Jika ayah dan ibu mereka rukun, tidak banyak pertengkaran, tidak ada kekerasan, tentu anak-anak akan tumbuh baik secara psikologis. Jika kamu sudah pisah dengan suamimu atau istrimu, dan anak-anakmu tinggal bersamamu, pastikan mereka bisa bertemu ayah atau ibu mereka dengan mudah. Perpisahan orangtua tidak harus memisahkan anak-anak.

Dan yang terpenting: anak-anak merasa dicintai.
Demikian para sahabat Indoliterasi, Semoga bermanfaat.

Jangan lupa bersyukur.
Peluk cium anak-anakmu.
Jangan lupa bahagia.

© RibutWahyudi

Sumber gambar: People photo created by senivpetro – www.freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *