A HISTORY OF PSYCHOLOGY Sejarah Psikologi


Seorang psikolog kontemporer mengatakan bahwa psikologi telah memiliki masa lalu yang panjang tapi memiliki sejarah yang singkat. Pemikiran yang tersebar mengenai masalah psikologis sesungguhnya sangat berlimpah di seluruh sejarah ilmu pengetahuan, tapi kelangsungan penyelidikan psikologi sering terganggu, sementara pengembangan psikologi yang benar-benar membuahkan hasil baru akhir-akhir ini terjadi. Dengan kompleksitas yang ekstrim dalam proses mental ini, sebuah kompleksitas yang tampaknya hanya untuk meningkatkan secara lebih cermat untuk mengenal mereka, baru sedikit dilakukan. Ada sesuatu dalam sifat proses mental, bahkan dalam bentuknya yang sederhana, yang menolak upaya untuk tunduk kepada perlakuan ilmiah. Di tempat pertama, mereka bukan merupakan kelompok khusus dari fakta-fakta yang dengan pasti dapat dibedakan dari kelompok fakta-fakta yang lain, dan yang mungkin harus ditemukan. Fakta-fakta itu terus-menerus bersama kita, dan sesungguhnya setiap fakta berada dalam bagian, atau pada salah satu sisinya merupakan sebuah fakta mental. Selain itu, fakta-fakta tentang kesadaran bukan merupakan data yang ditemukan seperti barang tambang yang langka atau yang dapat diamati sebagai fenomena asing di alam. Jauh sebelum fakta-fakta ini tunduk pada analisis ilmiah, fakta-fakta itu telah mengalami pengaruh yang tak terhitung dalam kehidupan sosial. Bahasa misalnya, dapat disebutkan sebagai pengaruh yang paling penting, yang sudah menjelaskan tentang fakta-fakta tersebut, dan telah menafsirkan fakta tersebut sesuai dengan kebutuhan kehidupan praktis. Ada sebuah keganjilan lebih lanjut dari materi psikologi yang menjadikan investigasi ilmiah menjadi sangat sulit. Dalam semua investigasi ilmiah, detasemen emosional tertentu tampaknya akan menjadi mutlak diperlukan bagi keberhasilan kegiatan ilmiah.
Namun dalam psikologi, perasaan dan emosi menjadi objek penye­lidikan itu sendiri, dan pertanyaan yang paling sentral dalam psikologi sangat erat terkait dengan minat penting dari kehidupan kita bersama. Memang benar bahwa bahkan dalam ilmu fisika, metode investigasi secara bertahap dibebaskan dari campur tangan subjektif perasaan. Bahkan konon seorang pengamat seperti Galileo begitu resah oleh perubahan yang tidak bisa dijelaskan mengenai bentuk Saturnus, karena posisi cincinnya yang pada waktu itu masih dikenal olehnya, sehingga ia sama sekali menolak untuk mengamati planet. Betapa sangat sulitnya bagi psikologi untuk memenuhi tuntutan pengamatan obyektif murni ketika masalah fundamental yang begitu dalam terjalin dengan kepentingan, harapan, dan gairah yang terdalam pada diri manusia! Ini hanya merupakan konsekuensi dari keadaan tersebut, sehingga psikologi telah mengalami perkembangan sejarah yang berbeda dengan ilmu kognitif sehingga catatan sejarah perkembangannya harus mengikuti dirinya sendiri dengan metode yang khas.

. . .


Beli Buku Ini...