KERJA DI PABRIK
Sebuah Dialog Ringan dengan Tetangga

Dulu, saat mulai tinggal di Temanggung pada 1998 saya hanya menemukan beberapa pabrik saja di wilayah ini. Hawa yang sejuk adalah tipikal sehingga hampir pasti saya tidak berani mandi terlalu pagi kecuali pakai air hangat atau karena wajib mandi. Ehem!

Selang hampir 20 tahun kemudian, Temanggung menjadi kota yang ditumbuhi banyak pabrik terutama jalan terusan Soropadan - Temanggung, utamanya pabrik kayu. Begitu banyak, sehingga sekarang hawa atau udara tidak lagi begitu dingin atau sejuk. Efek positifnya, pabrik-pabrik itu menyerap ribuan tenaga kerja. Kalau dulu jalanan lengang, kini war wer suara motor melintasi setiap pagi dan sore. Para buruh/pekerja pabrik berangkat dan pulang kerja. Tidak sedikit yang motornya bagus. Karena tempat kerja dekat, mereka menghemat beaya hidup dan bisa mengkredit motor.

Tetapi saya mau cerita sedikit tentang beberapa tetangga yang tidak mau bekerja di pabrik dan memilih bekerja serabutan atau makelaran atau berdagang apa saja. Suasana kerja di pabrik sudah mulai berubah: mandor yang galak (mana ada mandor yang kalem!), jam kerja yang ketat, perhitungan jam lembur yang berubah, sistem shift yang melelahkan, dan perpanjangan kontrak kerja per 3 bulan, yang mengakibatkan sulitnya menjadi pekerja tetap.

"Bukankah itu lebih baik ketimbang memilih tidak bekerja?" saya bertanya. Dan mereka menjawab, "daripada kerja tertekan. Kami memilih hidup yang santai."

Dan mereka kebanyakan punya anak dan istri. Saya lihat mereka bahagia dengan cara mereka. Menikmati hidup dengan cara masing-masing.

Seringkali hidup memang persoalan pilihan: ya atau tidak. Kalau iya bagaimana, kalau tidak bagaimana.

Jadi pilihan apa pun yang kita ambil, yang terpenting adalah bertanggungjawab atas pilihan itu. Dan kadang kita dihadapkan pada pilihan yang tidak menyenangkan.


Selamat sukses, sahabat.




Background image created by Chaay_tee - Freepik.com