A Journey To Java Catatan Perjalanan ke Pulau Jawa

Kami meninggalkan Sydney (N.S.W) pada tanggal satu Maret menggunakan Mataram, salah satu kapal uap dari jalur pengiriman Burns Philp yang dinahkodai oleh Kapten John Williams. Kapal itu seberat 3,300 ton, jauh lebih baik daripada kapal-kapal tua dan kecil yang sampai sekarang masih digunakan oleh perusahaan. Kabin-kabin dan bar secara mengagumkan sudah dilengkapi dengan segala aspek modern, dan makanannnya juga sangat enak. Hanya ada satu masalah, yaitu kamar mandi wanita yang membutuhkan peningkatan. Satu kamar mandi untuk 28 wanita dan anak-anak sepertinya tidak akan mencukupi, dan jika kamu ingin menggunakannya, berarti berebut, atau bangun luar biasa pagi. Aku sangat terhibur menyaksikan para wanita, dengan bijaksana bangun pukul lima pagi, dan setelah membersihkan diri, kembali tidur ke kamar masing-masing; bukan proses yang menyenangkan. Untuk menambahkan ketidaknyamanan, kamar mandi kami terletak pada bagian terpanas di kapal, mungkin jauh lebih dingin jika dibandingkan dengan ruangan panas di Turkish Hamman, dan hasilnya adalah kebalikan dari menyegarkan. Cuaca antara Sydney dan Brisbane sangat buruk, dan jendela kapal harus ditutup setiap saat, yang mana merupakan cobaan yang berat untuk cuaca yang hangat seperti ini. Meskipun demikian, semua bernasib sama, karena tidak ada geladak kabin di kapal ini, tempat tidur berada di bawah ruang makan dan ruang merokok. Ruang merokok berada terbuka di geladak dan dibawahnya adalah bar yang sangat nyaman, berada di geladak atas dimana kursi-kursi kami ditata.


Kapal uap ini meninggalkan Sydney sebulan sekali dan setiap beberapa bulan yang berlainan mereka menyertakan perjalanan menuju New Guinea, membawa surat, barang-barang dan kargo ke pulau itu. Mataram bukan kapal New Guinea dan karena alasan itulah rombonga kami memilihnya, baik karena kami tidak ingin meninggalkan perarian di dalam Barrier Rief yang tenang, untuk melewati Lautan Koral yang bergelombang, dan juga menghabiskan empat hari kami di Jawa. Akan tetapi takdir ternyata berkata lain dan kita mau tidak mau pergi ke New Guinea. Beberapa hari sebelum tanggal pasti keberangkatan, kami mendengar, dengan terkejut dan sebal, karena kecelakan Moresby (kapal uap lain dengan jalur yang sama), tidak jauh dari pantai New Guinea yang berbahaya, Mataram harus menggantikannya, sehingga penduduk kulit putih di tanah Papua tidak akan kekurangan makanan dan kebutuhan lainnya. Saat itu, tidak ada gunanya protes dan juga sudah tidak ada waktu untuk mengganti rencana; Sebetulnya secara pribadi aku gembira karena berkesempatan untuk mengunjungi negara yang jauh dan jarang diketahui. Ditambah berkesempatan untuk mendapatkan jepretan yang menarik. Seharusnya aku tidak terlalu gembira karena tahu badai seperti apa yang akan ditemui pada perjalanan nanti. Ada untungnya masa depan itu tersembunyi bagi kita; kalau tidak, bagaimana kita bisa menikmati saat ini?

....

Ingin tahu lebih dalam tentang buku ini?


Ayo segera beli buku ini...